Politik Harus Kembali Menjaga Kehidupan
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, politik sedang menghadapi ujian paling mendasar:
Apakah ia masih relevan untuk menjaga kehidupan, atau justru ikut mempercepat kehancuran?
Jika bumi rusak, air tercemar, dan pangan rapuh, maka seluruh perdebatan kekuasaan kehilangan maknanya. Demokrasi, ideologi, bahkan kedaulatan negara akan berdiri di atas tanah yang retak. Di titik inilah politik seharusnya berhenti sekadar menghitung suara, dan mulai menghitung masa depan.

Krisis Ekologis Bukan Isu Tambahan
Selama ini, isu lingkungan sering ditempatkan sebagai pelengkap agenda politik. Padahal, krisis ekologis adalah akar dari banyak krisis lain: pangan, energi, kemiskinan, konflik sosial, hingga instabilitas politik.
Ketika hutan hilang, yang runtuh bukan hanya ekosistem, tetapi juga ekonomi rakyat. Ketika tanah rusak dan air tercemar, ketahanan nasional ikut melemah. Politik yang mengabaikan fakta ini sedang kehilangan relevansinya sendiri.
Resolusi 2026: Panggilan Moral, Bukan Sekadar Agenda
Di tengah politik yang semakin transaksional, Partai Gema Bangsa memilih jalan yang berbeda. Resolusi menyongsong 2026 tidak diposisikan sebagai agenda elektoral semata, melainkan panggilan moral.
Ketua Umum Partai Gema Bangsa, Ahmad Rofiq, menegaskan bahwa resolusi ini adalah ajakan untuk kembali pada akar nilai, sekaligus melompat ke masa depan dengan cara yang lebih bijaksana. Politik tanpa nilai akan mudah hanyut, sementara politik tanpa visi akan kehilangan arah.
Desa Bukan Pinggiran, Tapi Jantung Bangsa
Gema Bangsa memandang desa bukan sebagai wilayah pinggiran, melainkan jantung kehidupan bangsa. Di desa, relasi manusia dan alam masih relatif utuh. Pangan diproduksi, budaya dirawat, dan solidaritas sosial tumbuh.
Karena itu, desentralisasi yang diperjuangkan bukan sekadar model organisasi, melainkan sikap ideologis: menghormati aspirasi lokal, memberi ruang pada kearifan setempat, dan menempatkan daerah sebagai episentrum perubahan.
Dalam negara seplural Indonesia, sentralisme berlebihan justru melemahkan daya hidup bangsa.
Indonesia Hijau sebagai Doktrin Perjuangan
Bagi Gema Bangsa, Indonesia Hijau bukan isu sektoral atau jargon kampanye. Ia adalah doktrin strategis perjuangan politik.
Politik hijau tidak anti-pertumbuhan. Ia menolak pertumbuhan yang merusak, eksploitatif, dan timpang. Dalam politik hijau, kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, penguatan komunitas lokal, dan keadilan distribusi.
Keadilan ekologis bukan pilihan tambahan, melainkan fondasi kedaulatan bangsa.
Kemandirian sebagai Sistem, Bukan Slogan
Resolusi Gema Bangsa berpijak pada 12 prinsip kemandirian: pangan, energi, ekonomi rakyat, desa, budaya, hingga teknologi. Prinsip-prinsip ini saling terkait dan saling menopang.
Kemandirian pangan, misalnya, tidak cukup berhenti pada swasembada beras. Ia menuntut keberanian menghidupkan kembali pangan lokal, melindungi petani kecil, dan menata ulang sistem distribusi agar adil. Tanpa itu, ketahanan pangan hanya menjadi jargon statistik.
Generasi Muda: Pewaris dan Penjaga Masa Depan
Tidak ada resolusi masa depan tanpa keterlibatan generasi muda. Namun hari ini, anak muda hidup dalam paradoks: mereka paling terdampak krisis lingkungan, tetapi sering paling jauh dari ruang pengambilan keputusan.
Gema Bangsa memandang generasi muda bukan sebagai objek mobilisasi politik, melainkan subjek perubahan. Isu lingkungan, kemandirian ekonomi, dan keadilan sosial adalah isu generasi. Politik yang gagal memahami ini akan ditinggalkan oleh zaman.
Hijau yang Realistis, Bukan Romantik
Hijau yang diperjuangkan Gema Bangsa bukan nostalgia romantik, melainkan visi realistis tentang masa depan yang layak diwariskan. Hijau yang diwujudkan lewat kebijakan, etika, dan keberanian politik.
Karena itu, komitmen terhadap tata kelola pemerintahan yang bersih dan anti-korupsi menjadi syarat mutlak. Tanpa integritas, politik hijau hanya akan menjadi kosmetik kekuasaan.
Menentukan Arah Politik Bangsa
Deklarasi Partai Gema Bangsa pada 17 Januari 2026 adalah tonggak formal. Namun yang lebih penting adalah arah yang dituju: mengembalikan politik pada tugas utamanya—menjaga kehidupan.
Jika bumi runtuh, politik tak lagi relevan.
Maka pilihan kita jelas:
politik yang menjaga hidup, atau politik yang ikut mematikannya.
Mandiri di Negeri Sendiri.
Gema Bangsa untuk Indonesia.

