Dunia sedang bergeser. Konflik global masa depan tidak lagi sekadar berebut batas wilayah atau beda ideologi, melainkan dominasi atas sumber daya esensial: pangan, air, dan energi.

Dr. Ade Indriani Zuchri, M.Sos., Ketua Bidang Lingkungan dan Reforma Agraria Partai Gema Bangsa, memperingatkan hadirnya era “berebut makan”. Dalam situasi ini, negara-negara kuat dan korporasi transnasional akan melakukan segala cara untuk menguasai sumber daya agraria demi mengamankan perut domestik mereka sendiri.
Mengapa Pangan Menjadi Politik?
Menggunakan perspektif food regime theory (Friedmann & McMichael), Dr. Ade menjelaskan bahwa pangan bukan sekadar komoditas pasar, melainkan alat kekuasaan. Saat rantai pasok global terganggu akibat perang atau iklim, negara kaya cenderung melakukan land grabbing (perampasan lahan) di negara lain.
Krisis ini diperparah oleh distribusi yang timpang. Mengacu pada political ecology (Paul Robbins), kelaparan seringkali bukan karena alam yang pelit, melainkan karena relasi kuasa yang tidak adil.
Paradoks Kekayaan Indonesia
Indonesia berada dalam posisi yang ironis. Kita memiliki segalanya—dari sagu Papua hingga padi Jawa—namun masih terjebak dalam kemiskinan struktural.
“Analisis world-systems dari Wallerstein menunjukkan risiko kita hanya menjadi wilayah periferal (pinggiran) yang menyuplai bahan mentah bagi pusat kapitalisme global,” jelas Dr. Ade.
Saat ini, orientasi pembangunan kita masih terlalu berat pada industri ekstraktif dan sawit, memperlakukan alam sebagai barang dagangan ekspor, bukan fondasi kesejahteraan rakyat.
Tanpa tata kelola yang kuat, hutan dan tanah kita hanya akan menjadi sasaran investasi asing yang meninggalkan ampas bagi masyarakat lokal.
Manifesto Partai Gema Bangsa: Kembali ke Mandat Rakyat
Menghadapi ancaman “berebut makan” ini, Partai Gema Bangsa menuntut arah kebijakan SDA kembali pada Pasal 33 UUD 1945. Kami menawarkan empat agenda strategis:
-
Hentikan Ekstraktivisme: Ubah paradigma dari sekadar “mengeruk alam” menjadi membangun kedaulatan pangan nasional.
-
Reforma Agraria Sejati: Tanah harus kembali ke tangan petani dan masyarakat adat, bukan menumpuk di laci korporasi.
-
Hilirisasi untuk Rakyat: Pastikan nilai tambah sumber daya alam dinikmati oleh buruh dan industri dalam negeri.
-
Diversifikasi Pangan Lokal: Berhenti bergantung pada satu jenis komoditas. Sagu, umbi, dan pangan hutan adalah benteng pertahanan kita menghadapi krisis global.
“Jika dunia mulai berebut makan, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pelayan bagi kepentingan global. Kita harus menjadi lumbung yang berdaulat bagi rakyat sendiri,” tegas Dr. Ade.
#KedaulatanPangan #ReformaAgraria #PartaiGemaBangsa #KeadilanEkologis #PolitikPangan

