Reborn: Menjemput Kembali Kedaulatan Pangan dari Akar Desa
Indonesia memiliki kekayaan agraris yang tak terbantahkan, namun ironisnya, sektor pertanian kita selama berpuluh tahun terperangkap dalam kebijakan yang justru mematikan kemandirian. Simon Hate, aktivis pertanian senior yang telah mendedikasikan hidupnya mendampingi petani, memberikan kritik tajam sekaligus tawaran solusi: untuk benar-benar berdaulat, kita harus memutus rantai ketergantungan dan mengembalikan otonomi ke tangan petani.
Desa sebagai "Perdikan": Fondasi Mandiri yang Hilang
Kesalahan fundamental sejak masa Orde Baru adalah intervensi negara yang berlebihan dalam urusan teknis pertanian. Petani bukan lagi pemimpin bagi lahan mereka sendiri, melainkan operator yang tunduk pada cetak biru pusat. Akibatnya, alih-alih menjadi tulang punggung bangsa, petani justru diposisikan sebagai "beban" yang harus disuplai oleh subsidi negara.
Simon menawarkan gagasan radikal: memposisikan desa kembali sebagai "desa perdikan" yang mandiri. Dalam konsep ini, desa memiliki kedaulatan penuh atas lahan dan pengelolaan potensi lokalnya. Masyarakat memiliki hak guna lahan yang terlindungi, dan setiap kebijakan diambil melalui musyawarah mufakat, bukan instruksi top-down.
Restorasi Budaya Ilmu dan Teknologi
Salah satu poin krusial adalah hilangnya budaya ilmu pengetahuan di perdesaan. Selama ini, negara cenderung memberikan teknologi "siap pakai" yang seringkali tidak relevan dengan kondisi lapangan. Simon menegaskan bahwa kebudayaan adalah akumulasi dari ilmu pengetahuan dan keterampilan yang lahir dari interaksi manusia dengan alamnya. Restorasi ini bukan berarti menolak modernitas, melainkan meletakkan petani sebagai pusat dari inovasi.
Politik sebagai Pendukung, Bukan Penguasa
Partai politik harus bertransformasi menjadi pendukung sistem bagi petani. Ini memerlukan kaderisasi yang nyata—di mana para politisi tidak lagi hanya berpolitik di pusat, melainkan harus turun dan tinggal di desa untuk benar-benar memahami dinamika riil petani.