Lahir dari Rakyat, Untuk Rakyat

Pulang untuk Membangun Rumah Sendiri: Cerita Marah Ali Aditiawarman di Balik Gema Bangsa

 “Fokus kami jelas: desentralisasi. Kami ingin kewenangan tidak lagi menumpuk di pusat, tapi diserahkan langsung ke rakyat di daerah. Prinsip keberpihakan pada daerah inilah yang membuat Partai Gema Bangsa tampil beda”

Kalimat itu mengalir begitu saja dari Marah Ali Aditiawarman, Wakil Sekjen XIII Partai Gema Bangsa, saat berbincang santai dengan Redaksi Partaigemabangsa.org di sela acara Deklarasi Nasional, 17 Januari 2026. Sebagai salah satu sosok yang ikut berkeringat membangun partai dari nol, Ali bicara blak-blakan soal pilihannya. Baginya, visi desentralisasi bukan sekadar janji politik, melainkan alasan utama mengapa ia rela mencurahkan energinya hingga partai ini berhasil menyatukan pengurus di hampir seluruh pelosok daerah hanya dalam waktu satu tahun.

Marah Ali Aditiawarman, Wakil Sekjen XIII Partai Gema Bangsa, saat bincang santai dengan Redaksi Partaigemabangsa.org
Marah Ali Aditiawarman, Wakil Sekjen XIII Partai Gema Bangsa, saat bincang santai dengan Redaksi Partaigemabangsa.org

“Masyarakat sebetulnya sudah jenuh dengan partai politik. Namun, di sini kami menawarkan sesuatu yang beda. Secara logika, membangun jaringan seluas ini dalam setahun itu berat, tapi semangat desentralisasi membuat teman-teman di daerah merasa punya kuasa penuh atas rumah mereka sendiri,” ujar Ali.

Baginya, Gema Bangsa adalah jawaban bagi mereka yang lelah dengan sistem lama yang sering kali dianggap terlalu kaku dan berpusat di Jakarta.

Belajar dari Negeri Tetangga untuk Membenahi Rumah Sendiri

Lahir di Kuwait dan besar di Jakarta, Ali memiliki cakrawala berpikir yang luas berkat pengalaman profesionalnya selama bertahun-tahun di Malaysia. Redaksi sempat mengungkit kisah lama tentang seorang doktor lulusan Jepang tahun ’96 yang memilih berkarier di luar negeri karena merasa keahliannya kurang diapresiasi di tanah air. Ali pun mengamini bahwa kegelisahan serupa masih menghantui banyak talenta terbaik Indonesia hingga saat ini

“Di Indonesia, profesional sering kali dianggap biasa saja. Akhirnya, jika ada kesempatan di luar negeri, ya diambil. Di Malaysia, semua diatur oleh pemerintah dengan rapi sehingga sistemnya terasa lebih seimbang,” ungkapnya.

Namun, alih-alih menetap di zona nyaman negeri orang, Ali memilih pulang untuk ikut membenahi keadaan dari dalam.

“Sejauh apa pun kita merantau, rumah kita tetap Indonesia,” tegasnya.

Menyentil Mafia Tiket dan Penyakit KKN

Ali juga menyoroti kebijakan yang sering terasa tidak masuk akal bagi rakyat kecil, salah satunya harga tiket pesawat domestik yang justru lebih mahal dari penerbangan internasional. Ia mencium aroma kuat peran mafia sistemik yang harus segera diberantas melalui keterbukaan tata kelola.

“Mana ada logikanya pergi domestik lebih mahal daripada ke luar negeri. Kalau kita telusuri, mafia di sana banyak. Itu yang harus dihilangkan,” cetusnya.

Menurutnya, jika daerah diberikan kedaulatan yang lebih besar, suara dari bawah akan jauh lebih kuat untuk mendobrak praktik-praktik curang semacam itu.

Menjaga Api Perjuangan ’98

Sebagai bagian dari Angkatan ’99 yang pernah berdiri di barisan depan demonstrasi ’98, Ali menaruh perhatian besar pada moralitas politik. Ketika Redaksi menyentil kekhawatiran tentang fenomena aktivis ’98 yang setelah semangat berjuang lalu menjadi pejabat dan akhirnya lupa diri, Ali memberikan jawaban yang jauh lebih tajam.

“Malah lebih parah sekarang!” seru Ali menanggapi fenomena tersebut. Menurutnya, praktik KKN saat ini sudah dianggap sebagai hal yang biasa. “Sekarang lebih parah dari zaman dulu,” tambahnya.

Bagi Ali, perubahan sejati dimulai dari ketulusan untuk membangun dari bawah. Ia pun mengajak generasi muda untuk berani mengambil peran:

“Keberanian melangkah bukan berarti harus pergi jauh, melainkan berani terlibat dalam perubahan di negeri sendiri.”


Saat Daerah Menjemput Perubahan

Obrolan santai ini berlangsung di tengah riuhnya suasana deklarasi yang dihadiri ribuan kader dari berbagai daerah. Aula acara terasa begitu hidup, penuh dengan energi yang sulit digambarkan hanya dengan kata-kata. Pekikan “Indonesia Reborn” berkali-kali menggema, memantul di antara kibaran bendera partai yang memenuhi ruangan.

Melihat wajah-wajah penuh semangat dari para pengurus daerah yang hadir, terlihat jelas bahwa apa yang dikerjakan Ali dan timnya selama setahun terakhir mulai menampakkan hasil. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, tersirat sebuah pesan kuat:

Gema Bangsa bukan sekadar nama baru di atas kertas, melainkan sebuah gerakan yang lahir dari kerinduan rakyat akan kedaulatan di tanah mereka sendiri.

Unduh Aplikasi Resmi Partai Gema Bangsa

Download Aplikasi Gema Bangsa di Google Play Download Aplikasi Gema Bangsa di App Store

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Lahir dari Rakyat, Untuk Rakyat
0

Subtotal