Lahir dari Rakyat, Untuk Rakyat

Disrupsi Itu Perlu, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Empati

Tulisan Kawan Abdul Ghofar berjudul “Antara Disrupsi dan Empati; Jalan Menuju Kerusakan atau Kebangkitan” yang dimuat di Kosapoin itu rasanya seperti ngajak kita duduk santai dan berpikir: sebenarnya kita ini lagi maju, atau justru pelan-pelan salah arah?

Disrupsi dan Empati: Bedah Tulisan Abdul Ghofar tentang Krisis Kepemimpinan

Hari ini semua serba cepat. Harus inovatif, harus lincah, harus beda. Istilahnya keren: disrupsi. Banyak yang ingin jadi penggerak perubahan.

Tapi seperti yang disampaikan dalam tulisan itu, di balik semangat perubahan, sering muncul hal yang tidak kita sadari—cara memimpin justru makin kaku, bahkan cenderung menekan.

Keputusan satu arah. Ruang diskusi makin sempit. Orang jadi segan bicara. Empati dianggap memperlambat.

Padahal niat awalnya ingin mempercepat kemajuan.


Ketegasan yang Kebablasan

Kita sering dengar, “pemimpin harus tegas.” Itu tidak salah.

Tapi dalam praktiknya, tegas sering berubah jadi keras. Bahkan jadi menekan.

Semua dibungkus alasan yang terdengar masuk akal: demi efektivitas, demi kecepatan, demi target.

Di titik ini, seperti yang diingatkan Kawan Abdul Ghofar, muncul pola toxic leadership—yang bukan mendorong inovasi, tapi justru menumbuhkan rasa takut.


Saat Orang Takut, Organisasi Ikut Melemah

Begitu suasana dipenuhi tekanan, dampaknya langsung terasa.

Orang tetap bekerja, tapi sekadar menjalankan tugas. Bukan karena semangat, tapi karena takut salah.

Ide-ide baru jarang muncul, bukan karena tidak ada, tapi karena tidak ada ruang aman untuk menyampaikan.

Inisiatif melemah. Loyalitas pun jadi formalitas.

Dan lama-lama, ini bukan lagi soal individu, tapi jadi budaya.

Organisasi yang tadinya hidup dan terbuka, berubah jadi kaku, dingin, bahkan penuh kecurigaan.


Yang Paling Berbahaya: Dianggap Normal

Ini mungkin bagian paling penting dari tulisan tersebut.

Semua kondisi tadi sering tidak terasa sebagai masalah. Karena kita sudah terbiasa dengan narasi seperti:
“Memang harus keras,”
“Tekanan itu perlu,”
“Yang penting target tercapai.”

Kalimat-kalimat ini terdengar biasa, tapi pelan-pelan menutup ruang kritik dan keberanian untuk berbeda.

Akibatnya, organisasi kehilangan kemampuan untuk mengoreksi diri.


Kenapa Ini Penting bagi Gema Bangsa

Apa yang disampaikan Kawan Abdul Ghofar sebenarnya sejalan dengan kegelisahan yang melahirkan Partai Gema Bangsa.

Sejak awal, Gema Bangsa melihat bahwa masalah politik kita bukan hanya soal hasil, tapi juga soal cara.

Demokrasi bisa kehilangan arah bukan karena rakyat tidak peduli, tapi karena praktiknya menjauh dari nilai—dari keadilan, dari keterbukaan, dan dari kemanusiaan.

Karena itu, yang dibangun bukan hanya struktur, tapi juga budaya.

Sapaan “Kawan” mungkin terdengar sederhana, tapi itu cara menegaskan bahwa semua setara. Tidak ada yang terlalu tinggi, tidak ada yang sekadar pelengkap.


Membangun Ruang Aman untuk Bicara

Dalam tulisannya, Kawan Abdul Ghofar menyinggung pentingnya psychological safety—ruang aman untuk berbicara.

Kalau disederhanakan, ini soal apakah orang merasa aman untuk menyampaikan pendapat, bahkan ketika berbeda.

Ini terlihat sepele, tapi justru sangat menentukan.

Tanpa itu, organisasi akan kehilangan ide, kehilangan keberanian, dan akhirnya kehilangan arah.


Empati Harus Dijaga, Bukan Sekadar Diniatkan

Satu hal penting yang juga ditekankan: empati tidak cukup hanya jadi niat baik.

Harus ada sistem yang menjaganya.

Harus ada akuntabilitas. Harus ada batas yang jelas terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Di Gema Bangsa, ini diwujudkan dalam komitmen politik tanpa mahar, penguatan peran daerah, dan upaya menjaga agar keputusan tidak hanya datang dari satu arah.

Intinya sederhana: kekuasaan harus tetap dikontrol, bukan dibiarkan.


Akhirnya, Ini Soal Cara Memimpin

Kalau ditarik ke ujung, pesannya sederhana tapi penting.

Kepemimpinan bukan cuma soal hasil, tapi soal cara.

Apakah orang dihargai?
Apakah mereka didengar?
Apakah mereka dilibatkan?

Atau justru hanya dijadikan alat untuk mencapai target?

Karena benar, seperti yang disampaikan Kawan Abdul Ghofar, loyalitas tidak pernah lahir dari tekanan—ia lahir dari kepercayaan.


Jaga Empati

Bagi Partai Gema Bangsa, tulisan ini adalah pengingat.

Kita memang perlu berubah. Perlu cepat. Perlu adaptif.

Tapi jangan sampai dalam proses itu, kita kehilangan empati.

Karena kalau itu yang hilang, kita mungkin terlihat bergerak maju—
padahal sebenarnya sedang pelan-pelan kehilangan arah.


Profil Penulis

Dr. Abdul Ghofar adalah Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gema Bangsa, pemerhati manajemen, pendidikan, dan politik. Ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum IKADA II (Ikatan Alumni Doktor IKIP/UNJ).

Unduh Aplikasi Resmi Partai Gema Bangsa

Download Aplikasi Gema Bangsa di Google Play Download Aplikasi Gema Bangsa di App Store

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Lahir dari Rakyat, Untuk Rakyat