Pergantian tahun bukan sekadar hitung mundur dan sorak perayaan. Ia adalah jeda sunyi—saat waktu menutup satu perjalanan, dan kita berdiri sejenak untuk menata langkah berikutnya. Tahun baru tak menuntut gegap gempita. Ia cukup disambut dengan hati yang jernih, niat yang lurus, dan syukur yang utuh kepada Sang Penentu Segala.

Memasuki 2026, doa-doa kita tak boleh berhenti di langit. Ia harus membumi. Menyentuh kehidupan nyata, merasakan luka sesama, dan hadir sebagai kepedulian yang sungguh-sungguh. Pikiran dan hati kita tertuju kepada saudara-saudara kita yang tengah diuji musibah, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Semoga mereka diberi kekuatan, ketabahan, serta jalan untuk segera pulih dan bangkit kembali—dengan jiwa yang lebih kokoh dan harapan yang kembali menyala. Aamiin.
Di saat seperti inilah kita diingatkan: harapan tak lahir dari keramaian, melainkan dari kepedulian. Ia tumbuh ketika kita memilih untuk tidak berpaling, untuk tetap hadir, dan saling menguatkan di tengah keterbatasan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang mampu berdiri, tetapi yang mau menopang sesamanya saat jatuh.
Mari kita melangkah dengan tenang, namun pasti. Biarlah doa menjadi penunjuk arah, keyakinan menjadi pegangan saat jalan terasa menanjak, dan semangat menjadi api kecil yang terus hidup meski badai datang silih berganti. Karena harapan tak pernah benar-benar padam; ia selalu menemukan jalannya sendiri, bahkan dari rekahan tanah yang paling keras.
Ikan cupang ikan kerapu
Tanda harmoni di dalam negeri
Selamat datang harapan baru
Tegak mandiri di negeri sendiri
Pada akhirnya, tahun baru bukan tentang seberapa lantang janji diucapkan, melainkan seberapa teguh kita menjaga nurani, tetap berdiri di tengah ujian, dan terus melangkah maju—bersama, searah, dan saling menguatkan.
Selamat Tahun Baru 2026.
Terus bergema. Terus berbakti.

