Bayah 1943: Potret Kelam Romusha
Pada awal 1943, Banten Selatan menjadi saksi bisu salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di era pendudukan Jepang. Di tambang batu bara Bayah–Cikotok, ribuan romusha dipaksa memacu mesin perang Asia Timur Raya.

Dikenal sebagai “Neraka Tanpa Api,” wilayah ini dipenuhi buruh yang bekerja tanpa perlindungan, didera kelaparan, dan dihantui wabah penyakit. Namun, di balik penderitaan fisik yang ekstrem, sebuah benih kesadaran mulai disemai: bahwa kemerdekaan bukanlah pemberian, melainkan hak yang harus direbut.
Penyamaran Sang Ibrahim
Di tengah hiruk-pikuk penderitaan itu, muncul sosok bersahaja bernama Ibrahim. Di mata Jepang, ia hanyalah seorang kerani (pegawai administrasi) yang rajin dan bersahaja. Namun, sejarah mengungkap identitas aslinya: ia adalah Tan Malaka, sang penggagas konsep Republik Indonesia yang sedang dalam pelarian internasional.
Tan Malaka tidak memilih Jakarta atau pusat kekuasaan. Ia memilih Bayah karena:
-
Kedekatan dengan Massa: Ia ingin merasakan langsung denyut nadi penderitaan rakyat paling bawah.
-
Ruang Strategis: Tambang adalah titik temu kekuatan ekonomi dan buruh, laboratorium sempurna untuk mempraktikkan teori perjuangan kelasnya.
Pendidikan Politik “Bawah Tanah”
Tan Malaka tidak memberikan ceramah di podium. Ia bergerak secara organik di antara para romusha, membingkai penderitaan mereka bukan sebagai takdir, melainkan akibat dari eksploitasi struktural.
“Kemerdekaan bukan sekadar pergantian bendera, melainkan kedaulatan penuh atas tanah, tambang, dan hasil keringat sendiri.”
Bagi Tan Malaka, Bayah adalah miniatur persoalan bangsa: kekayaan alam yang melimpah, namun rakyatnya tetap terasing di tanah sendiri karena kendali ada di tangan asing.
Refleksi Sejarah: Pelajaran dari Bayah
Kisah perjuangan di Bayah memberikan tiga pilar penting bagi kedaulatan bangsa hari ini:
-
Kedaulatan Sumber Daya: Kekayaan alam harus dikelola untuk kesejahteraan rakyat lokal, bukan sekadar komoditas yang dikeruk habis.
-
Kesadaran Akar Rumput: Perubahan sejati tumbuh dari pemahaman politik rakyat jelata, bukan hanya instruksi dari elit kekuasaan.
-
Kemandirian Ekonomi: Tanpa kedaulatan atas aset strategis, kemerdekaan politik hanya akan menjadi sekadar formalitas administratif.
Warisan yang Hidup dalam Senyap
Tan Malaka meninggalkan Bayah tanpa upacara dan tanpa monumen mewah. Namun, ia meninggalkan “pikirannya yang merdeka” pada setiap buruh yang pernah ia ajak bicara. Gagasan-gagasan yang ia bisikkan di lorong-lorong gelap tambang itulah yang kemudian membakar semangat perlawanan rakyat Banten dalam mempertahankan kemerdekaan pasca-1945.
Kisah ini adalah pengingat abadi: Kemerdekaan sejati baru tercapai ketika rakyat sudah berdaulat atas tanahnya dan mampu menentukan nasibnya sendiri tanpa rasa takut.
#TanMalaka #SejarahIndonesia #Bayah #Romusha #PahlawanNasional

