DPP Gema Bangsa Gelar Rapat Pleno: Sebelas Suara, Satu Tekad Menuju 2029
Dari percepatan konsolidasi verifikasi hingga respons tegas terhadap RUU Pemilu — rapat pleno DPP Gema Bangsa malam ini menghadirkan diskusi paling substantif sepanjang tahun.
Klik untuk perbesar
JAKARTA — DPP Partai Gema Bangsa menggelar rapat pleno pada Kamis malam, 25 Juni 2026, yang dimulai pukul 19.00 WIB di Kantor DPP Gema Bangsa, Jakarta. Rapat mempertemukan Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, dua Wakil Ketua Umum, para Ketua Bidang, dan jajaran Wakil Sekretaris Jenderal dalam satu forum untuk membahas dua agenda utama: update perkembangan partai dan respons terhadap isu politik nasional.
Rapat dibuka dengan Tausyiah Politik oleh Muchtar Amma — sebuah tradisi baru dalam pelaksanaan rapat DPP Partai Gema Bangsa yang bertujuan melakukan refreshing ideologi partai guna menyiapkan verifikasi dengan baik dan kemenangan partai pada tahun 2029.
Konsolidasi & Verifikasi
20% DPW Telah Serahkan SK, Konsolidasi Dipercepat
Sekjen Muhammad Sopiyan membuka substansi rapat dengan menekankan bahwa persiapan verifikasi sudah sangat dekat dan konsolidasi menyeluruh tidak boleh lagi ditunda. Ia juga mendorong Wakil Ketua Umum dan Bidang Politik untuk segera menindaklanjuti kajian RUU Pemilu/Partai Politik dalam bentuk diskusi yang menyeluruh, termasuk meneriakkan ketidakadilan di media sosial terhadap isu parliamentary threshold (PT) yang berjenjang — yang dinilai merugikan partai non-parlemen.
Data lapangan kemudian dipaparkan oleh Wakil Ketua Umum AKA. Tim Asistensi mencatat sekitar 42% DPW masih membutuhkan penguatan kepengurusan, diukur dari keaktifan grup WhatsApp, intensitas komunikasi tim asistensi, hingga keaktifan di media sosial. Yang lebih mendesak: baru 20% DPW yang telah menyerahkan SK Pengurus untuk verifikasi, padahal roadmap menetapkan Juni sebagai bulan konsolidasi di semua tingkatan. AKA juga mengusulkan agar Tim Bappilu yang telah terbentuk segera bekerja paralel menyiapkan peta pemenangan sejak dini, serta mengusulkan penyelenggaraan rapat terbatas dalam waktu dekat untuk membahas isu-isu pemilu secara lebih khusus.
Ketua Bidang Organisasi Hardiansyah menambahkan dimensi yang lebih luas: partai perlu memiliki sense of crisis terhadap politik nasional. Menurutnya, guncangan politik ke depan tak terhindarkan — salah satunya adalah proses demiliterisasi yang sedang berjalan — dan Gema Bangsa harus lebih cerdas dan bersuara lantang, seiring komitmennya mendukung Prabowo dua periode.
"Kita juga perlu memiliki sense menangkap kemauan rakyat."
Sikap Ketua Umum
Ahmad Rofiq: Dukung Prabowo, tapi Kritik Itu Kewajiban
Ketua Umum Ahmad Rofiq menegaskan posisi partai yang tidak ambigu: Gema Bangsa mendukung Prabowo untuk dua periode. Namun dukungan bukan berarti diam. Ia mencermati kegelisahan Presiden Prabowo yang disampaikan dalam sambutan di acara Nahdlatul Ulama, soal besarnya kekayaan Indonesia yang mengalir ke luar negeri — termasuk dari sektor pertambangan yang selama ini belum berpihak pada kepentingan negara.
"DPP Gema Bangsa perlu memberikan masukan konkret terhadap kegelisahan ini."
Partai harus hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai kekuatan yang menawarkan rekomendasi kajian perbaikan ekonomi secara nyata.
Ahmad Rofiq juga mencatat bahwa media sosial Gema Bangsa sudah dianggap paling aktif di antara partai non-parlemen, namun masih ada pekerjaan rumah untuk menyaingi kehadiran digital partai-partai parlemen. Ia menekankan pentingnya internalisasi ideologi desentralisasi oleh setiap pengurus — bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai cara berpikir dan bertindak sehari-hari.
Dalam soal RUU Pemilu, Ketua Umum menarik garis tegas: jika DPR menetapkan PT melampaui 4% yang telah diputuskan Mahkamah Konstitusi, Gema Bangsa akan segera menyiapkan judicial review ke MK. "Dan itu harus segera disiapkan sejak sekarang," tegasnya.
Terkait verifikasi, Ahmad Rofiq menyampaikan bahwa Gema Bangsa memiliki infrastruktur yang cukup untuk memenuhi syarat. Oleh karena itu konsentrasi akan dibagi menjadi dua hal: verifikasi dan pemenangan pemilu. Inventarisasi DPW yang sudah kuat dan yang membutuhkan dukungan perlu segera dilakukan untuk monitoring yang menyeluruh.
Posisi Politik
Joko Kanigoro: Maklumat Partai dan Oposisi yang Bermartabat
Wakil Ketua Umum Joko Kanigoro membawa perspektif yang jernih tentang posisi Gema Bangsa di peta politik: kepada pemerintah, partai bersikap mendukung; kepada partai-partai lain, Gema Bangsa adalah oposisi. Bukan oposisi yang destruktif, melainkan oposisi yang kritis dan bertanggung jawab secara moral kepada masyarakat.
Joko mencermati bahwa kondisi politik hari ini mengalami banyak sekali krisis — krisis ekonomi, krisis politik, hingga krisis kepercayaan. Di tengah situasi itu, ia mengusulkan agar rapat segera mengambil keputusan soal posisi partai terhadap angka PT, apakah 2%, 5%, atau 8%, sehingga setiap pengurus memiliki panduan yang jelas untuk dikampanyekan secara masif.
Ia juga mengusulkan agar partai segera menerbitkan maklumat resmi sebagai suara Gema Bangsa terhadap RUU Pemilu, yang kemudian diedarkan ke seluruh wilayah dan daerah. Soal desentralisasi, Joko mengingatkan bahwa pola pikir sentralistik masih banyak ditemukan di kalangan pengurus.
"Ketika desentralisasi diletakkan pada kehidupan, ia bertransformasi menjadi ideologi dengan makna kemandirian."
Catatan Lapangan
dr. Yandra Doni: Psikologi Kader Daerah Perlu Perhatian Serius
Ketua DPP Bidang Politik dr. Yandra Doni menyuarakan sesuatu yang penting namun sering luput dari perhatian DPP: pengurus di daerah saat ini mengalami kebimbangan. Dua sumber utamanya adalah putusan MK yang memisahkan pemilu nasional dan pemilu daerah, serta dinamika politik nasional dan global yang turut memengaruhi semangat dan performa pengurus di lapangan. Ini sinyal bahwa konsolidasi bukan hanya soal data SK, tetapi juga soal psikologi kader.
Narasi Publik
Ghofar: Tiga Isu yang Harus Menjadi Narasi Partai
Ketua Bidang Pendidikan Ghofar memberikan panduan praktis soal narasi Gema Bangsa di ruang publik. Menurutnya ada tiga isu yang perlu dikomunikasikan secara konsisten melalui media sosial: pertama, kondisi dan situasi ekonomi rakyat hari ini; kedua, kinerja pemerintah yang perlu didukung dengan pendekatan kajian-kajian gagasan Gema Bangsa; ketiga — dan ini yang paling jarang digarap — penegakan hukum, wilayah yang hampir tidak pernah diisi oleh suara Gema Bangsa.
Ideologi Partai
Harry Azhar: Ideologi Adalah Ruh, Bukan Hiasan
Ketua Bidang Kader Harry Azhar mengingatkan satu hal mendasar yang kerap terlupakan dalam hiruk-pikuk teknis kepartaian: desentralisasi adalah sistem partai Gema Bangsa yang disusun untuk mencapai tujuan partai, sementara ideologi adalah alam pikiran yang harus menjadi ruh dalam perjuangan partai. Keduanya tidak bisa dibalik dan tidak bisa dipisahkan.
Kewenangan Wilayah
Hasan Asy'ari: Lima Kewenangan Nyata yang Harus Dipahami Daerah
Wasekjen Hasan Asy'ari meluruskan salah satu kesalahpahaman yang masih beredar: desentralisasi Gema Bangsa bukan soal otonomi organisasi kepartaian, melainkan soal kewenangan. Ada lima kewenangan konkret yang diberikan DPP kepada wilayah dan daerah — mulai dari penentuan kepala daerah, pengelolaan aset, hingga fundraising — sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Organisasi (PO) Desentralisasi partai.
Ia juga mengumumkan dua program baru yang sedang digagas: perkaderan di tingkat wilayah dan daerah, serta seri podcast bersama pengurus yang sudah disiapkan oleh tim sekretariat. Seluruh pengurus diharapkan dapat terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.
Konteks Ekonomi
Widi dan Ali: Krisis Global, Peluang Lokal
Wasekjen Widi memberi konteks ekonomi makro yang penting: kondisi perekonomian global memang sedang tidak kondusif akibat dampak konflik internasional, dan hampir semua negara terdampak. Namun Indonesia, secara relatif, tidak terpengaruh secara signifikan. Justru di sinilah Gema Bangsa bisa masuk — mengisi ruang yang kosong ketika DPR dinilai lebih banyak berfungsi sebagai juru bicara pemerintah ketimbang penyeimbang kekuasaan.
Wasekjen Ali menegaskan ulang posisi partai: sebagai pendukung pemerintahan Prabowo, justru tanggung jawab Gema Bangsa adalah bersikap kritis terhadap pelaksanaan program dan kebijakan — bukan diam karena takut dianggap tidak setia. Itu bukan oposisi; itu adalah bentuk dukungan yang dewasa dan bertanggung jawab.
DPP Harus Menjadi Sumber Energi
Rapat ditutup dengan pesan yang disampaikan Ketua Umum Ahmad Rofiq kepada seluruh jajaran DPP: komunikasi ke wilayah dan daerah harus berlangsung terus-menerus dan tidak boleh terputus. Yang tidak kalah penting, DPP harus mampu memancarkan energi positif dengan pesan yang optimistis dan kuat terhadap keberhasilan Partai Gema Bangsa. Kader di daerah tidak membutuhkan DPP yang ikut panik — mereka membutuhkan DPP yang yakin, dan meyakinkan.
Rapat pleno DPP Gema Bangsa malam ini bukan sekadar rapat rutin. Ia adalah potret sebuah partai yang dengan sadar memilih untuk tumbuh — di tengah tekanan verifikasi, ketidakpastian regulasi, dan dinamika politik yang belum selesai bergerak.
Liputan: Tim Media DPP Partai Gema Bangsa | Editor: —