Sebuah Nasihat yang Sunyi, Namun Menghujam Ada satu wasiat dari buya Syafii Maarif yang terdengar tenang, nyaris tanpa nada amarah. Namun, justru di situlah letak kekuatannya.
“Jangan jadi politikus sebelum mampu dan cukup dalam urusan ekonomi keluarga, dan jangan jadikan panggung politik untuk mengais rezeki.”
Kalimat ini tidak berisik. Tidak menggurui. Namun, sekali kita renungkan, ia menghantam tepat ke jantung persoalan politik kita hari ini.
Politik Bukan Sekoci Penyelamat
Politik seharusnya menjadi ruang pengabdian, bukan sekoci penyelamat hidup. Ia bukan ruang pelarian dari kesulitan finansial. Politik adalah ruang tanggung jawab—tempat bagi mereka yang sudah “selesai dengan dirinya sendiri,” bukan yang masih berantakan.
Masalah muncul ketika seseorang masuk ke gelanggang politik saat urusan paling dasar—ekonomi keluarga—belum tuntas. Di titik itulah, makna kekuasaan bergeser. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah yang berat, melainkan dianggap sebagai harapan terakhir untuk memperbaiki nasib pribadi.
Saat Jabatan Menjadi “Jalan Keluar”
Pelan-pelan, kursi kekuasaan dikejar bukan karena kesiapan mengabdi, melainkan karena desakan untuk bertahan hidup. Politik kemudian diperlakukan seperti “pekerjaan darurat.” Prinsipnya sederhana namun berbahaya: yang penting dapat posisi dulu. Soal nilai, etika, dan integritas? Itu urusan belakangan—kalau sempat.
Ketika Rakyat Tak Lagi Jadi Tujuan
Panggung politik yang semestinya menjadi tempat memperjuangkan hajat hidup orang banyak berubah wajah. Ia menjadi arena mencari aman dan menumpuk peluang.
Dalam kondisi ini, rakyat tidak lagi diposisikan sebagai tujuan utama, melainkan sekadar alat:
Dukungan hanya dianggap sebagai tangga.
Suara hanya dianggap sebagai angka.
Kepercayaan hanya dianggap sebagai modal transaksi.
Semua pergeseran ini berjalan perlahan, namun dampaknya sangat nyata dan mematikan.
Kebijakan yang Kehilangan Nurani
Tak butuh waktu lama bagi rakyat untuk merasakan akibatnya. Kebijakan menjadi dingin dan keputusan terasa jauh dari realitas. Bukan karena rakyat tidak penting, tapi karena sang pemimpin sibuk mengamankan “dapur” pribadinya lebih dulu. Politik berubah menjadi hitung-hitungan untung rugi. Empati tersisih, nurani jarang diajak bicara.
Kemandirian Dimulai dari Rumah
Di sinilah urgensi Kemandirian Keluarga menemukan relevansinya. Sebagaimana ditegaskan oleh Ade Wardhana (ketua Partai Gema Bangsa Jawa Barat), visi kemandirian harus dimulai dari unit terkecil: keluarga.
Pesannya lugas: urusan rumah tangga harus mapan lebih dulu. Mengapa? Karena dari keluarga yang mandiri, lahir pribadi yang tenang. Pribadi yang tidak mudah panik, tidak gampang didikte oleh kepentingan pemodal, dan tidak gemetar saat memegang amanah besar.
Pemimpin Tenang, Rakyat Senang
Pemimpin yang efektif biasanya datang dari mereka yang hidupnya sudah relatif “beres.” Bukan berarti tanpa masalah, tapi mereka tidak lagi dikejar-kejar oleh kebutuhan perut. Orang seperti ini memiliki kejernihan berpikir untuk berkata “tidak” pada godaan.
Integritas tidak muncul secara instan. Ia tumbuh dari kemandirian, dari hidup yang tidak lapar, dan dari hati yang tidak gelisah oleh kekurangan.
Menjaga Politik Tetap Waras
Tulisan ini bukan untuk menghakimi. Ini adalah pengingat—seperti wasiat Buya Syafii tadi—bahwa politik membutuhkan orang-orang yang sudah siap memberi, bukan mereka yang sedang mencari.
Sebab, ketika politik dimulai dari kekurangan, ujung ceritanya hampir selalu seragam: rakyatlah yang menanggung bebannya.

