Pernah nggak sih kita mikir, kok bisa ya di negeri yang tongkat kayu aja bisa jadi tanaman, petani kita justru seringnya cuma jadi buruh di tanah sendiri? Mereka yang paling ngerti bau tanah, tapi justru mereka yang paling jauh dari surat sertifikatnya. Di TV mereka dipuji sebagai pahlawan, tapi di sawah mereka pusing mikirin besok makan apa.
Keresahan itulah yang pecah di acara Deklarasi Partai Gema Bangsa di JICC, Sabtu kemarin. Di tengah parade baju adat yang warna-warni dari 38 provinsi, ada satu janji yang nendang banget: Bank Tanah dan Politik Hijau. Ini bukan cuma slogan, tapi cara Gema Bangsa buat balikin harga diri petani.
Petani Harus Jadi Bos, Bukan Cuma Kuli
Gini lho, masalah utama petani kita itu bukan karena kurang rajin. Masalahnya adalah mereka nggak punya akses. Ketua Umum Gema Bangsa, Ahmad Rofiq, bilang jujur banget kalau selama ini petani kita itu ironis; kerja paling keras, tapi statusnya cuma buruh harian.
Makanya, Gema Bangsa nawarin ide Bank Tanah. Maksudnya gimana? Negara harus hadir buat bagi-bagi lahan tidur langsung ke petani sebagai hak milik, bukan cuma izin pinjam yang kapan aja bisa dicabut. Bayangkan kalau petani punya tanah sendiri; mereka pasti punya martabat, punya aset buat anak cucu, dan semangat buat bikin swasembada pangan bukan cuma jadi omong kosong di baliho. Ini cara paling elegan buat nyentil mereka yang hobi “nimbun” tanah cuma buat investasi pribadi.
Politik Hijau: Sayang Alam Itu Nggak Boleh Omon-Omon
Tapi, punya tanah luas pun nggak guna kalau buminya rusak, airnya kering, atau tanahnya beracun. Makanya, Gema Bangsa bawa konsep Politik Hijau. Dan kerennya, ini nggak cuma teori di atas kertas.
Instruksinya jelas dan nyata: setiap pimpinan sampai simpatisan wajib tanam minimal satu pohon di setiap rumah. Kecil? Mungkin. Tapi kalau serempak, efeknya dahsyat buat alam. Gema Bangsa pengen buktiin kalau politik itu harusnya soal “menanam” buat masa depan, bukan cuma pinter “memanen” suara tiap lima tahunan.
Stop Jakarta-Sentris! Biar Daerah yang Bicara
Terus, gimana biar ide-ide ini nggak mandek di birokrasi? Jawabannya: Desentralisasi. Gema Bangsa percaya kalau orang-orang di Jakarta nggak bakal paham seutuhnya apa yang dirasain petani di pelosok.
Urusan lahan dan lingkungan harusnya dikelola orang daerah sendiri karena mereka yang paling ngerti medan. Di Gema Bangsa, pengurus daerah dikasih kuasa penuh buat pilih pemimpin yang bener-bener paham aspirasi lokal, tanpa perlu nunggu “restu” atau titipan dari elit pusat yang seringnya kedap suara sama urusan akar rumput.
Gema Bangsa: Bergerak Mandiri untuk Indonesia!

