Lahir dari Rakyat, Untuk Rakyat
Ketua Umum Partai Gerakan Mandiri Bangsa (Gema Bangsa) — arsitek tiga partai politik dan penggerak politik akar rumput yang meyakini kekuasaan sejatinya milik rakyat.
Ahmad Rofiq lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 25 Agustus 1975, dan dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah yang menanamkan kedisiplinan, etos kerja, serta keberanian menyuarakan kebenaran sejak usia dini. Pendidikan dasarnya ditempuh di sekolah-sekolah Muhammadiyah di Lamongan, sebelum ia melanjutkan studi ke Fakultas Teknik Jurusan Elektro, Universitas Muhammadiyah Malang, yang diselesaikannya sekitar tahun 2000.
Bagi Rofiq, organisasi bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan ruang belajar kepemimpinan yang sesungguhnya — tempat ia mengasah cara memimpin, merajut jejaring, dan menanamkan gagasan perubahan. Dari sanalah tumbuh karakter yang kelak menjadi ciri khasnya: idealis, terbuka terhadap gagasan baru, dan tak mudah menyerah pada tekanan zona nyaman.
Lebih dari dua dekade, Rofiq memilih jalan yang jarang ditempuh politisi: membangun kekuatan politik dari titik nol, bukan sekali, melainkan empat kali berturut-turut.
Langkah politiknya dimulai saat ia ikut mendirikan Partai Matahari Bangsa dan dipercaya memegang jabatan Sekretaris Jenderal — lompatan pertamanya dari ruang aktivisme ke panggung politik nasional.
Rofiq menjadi salah satu dari 45 deklarator Ormas Nasional Demokrat yang digagas Surya Paloh, yang kemudian bertransformasi menjadi Partai NasDem. Ia kembali dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal untuk periode 2011–2013.
Bersama Hary Tanoesoedibjo, ia mendirikan Ormas Perindo — cikal bakal Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Rofiq mengawal partai ini sebagai Sekretaris Jenderal sejak 2015 hingga 2024, membangun struktur kader hingga ke pelosok negeri selama hampir satu dekade.
Bersama Muhammad Sopiyan dan Andogo Wiradi, Rofiq mendirikan Partai Gerakan Mandiri Bangsa (Gema Bangsa) pada 17 Januari 2025 dan memperoleh SK resmi Kementerian Hukum RI pada 25 Maret 2025. Setahun kemudian, tepat Sabtu, 17 Januari 2026, partai ini mendeklarasikan diri secara terbuka kepada publik di Jakarta Convention Center.
Kenyamanan sebagai Sekjen di partai-partai besar tak membuat Rofiq kehilangan arah. Ia menilai sistem politik yang terlalu tersentralisasi hanya akan menjadikan daerah sebagai penonton — sebuah kegelisahan yang akhirnya melahirkan Gema Bangsa.
Di bawah kepemimpinannya, Gema Bangsa menegaskan diri sebagai partai bottom-up yang berpihak pada kaum alit, membangun politik partisipatif, dan membuka ruang seluas-luasnya bagi rakyat untuk memimpin — bukan sekadar memilih. Pengalamannya merintis partai dari nol sebanyak empat kali membuatnya paham satu hal: kekuatan politik sejati tidak diukur dari besar-kecilnya logistik, melainkan dari soliditas kader, kekuatan jaringan, dan kesetiaan terhadap visi. Sebagai wujud penghargaan kepada para pejuang awal, ia bahkan menetapkan masa jabatan pengurus daerah generasi pertama selama sepuluh tahun.
Dengan penuh keyakinan dan tanggung jawab sejarah, saya nyatakan Partai Gema Bangsa resmi berdiri, resmi berjuang, dan siap menjadi bagian dari kebangkitan Indonesia.
— Ahmad Rofiq, Deklarasi Partai Gema Bangsa, JCC JakartaDi luar gelanggang partai, Rofiq membangun rekam jejak di dunia usaha dan turut ambil bagian dalam kontestasi politik nasional tertinggi.
Memimpin perusahaan yang bergerak di sektor logistik dan transportasi kargo.
Menjabat sejak 2014, memperluas pengalamannya di sektor media dan penyiaran.
Pada Pilpres 2019, memperluas perspektifnya tentang kekuasaan untuk kepentingan publik.
"Partai ini bukan milik satu tokoh. Pemiliknya adalah seluruh kader yang berjuang," tegasnya. Melalui Gema Bangsa, Ahmad Rofiq mengajak rakyat untuk tak hanya menyalurkan suara, tetapi juga mengambil alih kendali arah bangsa — sebab baginya, kekuasaan seharusnya memang berada di tangan rakyat sejak awal.
Notifications