Partai Gema Bangsa secara konsisten mengawal proses revisi Undang-Undang Pemilu 2026 dengan mengusulkan penghapusan ambang batas parlemen (parliamentary threshold/PT). Langkah ini diambil sebagai solusi konkret untuk mengakhiri fenomena “suara hilang” yang mencederai demokrasi Indonesia.

Ketua Umum Partai Gema Bangsa, kawan Ahmad Rofiq, menegaskan bahwa sistem PT saat ini perlu dievaluasi total. Merujuk pada data Pemilu 2024, terdapat sedikitnya 18 juta suara rakyat yang terbuang sia-sia karena tidak terkonversi menjadi kursi parlemen.
“Formula ini lebih menjamin keterwakilan suara rakyat. Kita tidak ingin suara rakyat hilang begitu saja. Kami menawarkan skema ambang batas fraksi (factional threshold) sebagai mekanisme yang lebih adil dan konstitusional,” ujar Rofiq dalam agenda Konsolidasi DPW DKI Jakarta dan DPD se-Jakarta di Jakarta Pusat, Kamis (26/02/2026).
Tantang Partai di Senayan
Usulan ini muncul di tengah perdebatan angka PT dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2026, menyusul Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 116/PUU-XXI/2023. Rofiq menilai, skema ambang batas fraksi akan menjaga keseimbangan antara keterwakilan politik dan efektivitas kelembagaan di DPR.
“Semua suara tetap dihitung dan dikonversi menjadi kursi, namun pembentukan fraksi dibatasi. Saya tantang partai-partai di Senayan, berani tidak menyepakati ambang batas fraksi, misalnya 10 hingga 15 persen kursi? Ini jauh lebih proporsional,” cetus Rofiq.
DKI Jakarta: Barisan Terdepan Menuju Rapimnas Agustus
Di sela penguatan gagasan nasional tersebut, internal Gema Bangsa terus memanaskan mesin organisasi. Ketua DPW Gema Bangsa DKI Jakarta, Charles Panji Dewanto, menyatakan kesiapannya merapikan struktur hingga tingkat kecamatan sebelum Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) pada Agustus mendatang.
“DPW Jakarta adalah jendela utama DPP. Kami bergerak masif memastikan seluruh struktur rapi dan terbentuk dalam waktu dekat,” lapor Charles.
Membangun Partai Berbasis Meritokrasi dan Dialog
Sejalan dengan penguatan struktur, Wakil Ketua Umum Abdul Kholiq menekankan pentingnya kualitas kader. Ia menegaskan bahwa loyalitas dan integritas harus dibarengi dengan peningkatan literasi dan kapasitas intelektual melalui merit system.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Joko Kanigoro melihat peluang besar Gema Bangsa di wilayah urban seperti Jakarta. Di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap parpol, Gema Bangsa hadir sebagai ruang dialog bagi mahasiswa dan profesional.
“Gema Bangsa lahir untuk menjawab problem warga, seperti lapangan kerja. Kader harus aktif mengidentifikasi isu-isu di kampus dan kelompok aktivis. Kita buka ruang dialog publik yang sehat dan solutif,” pungkas Joko.

