JAKARTA, partaigemabangsa.org – Kabar duka yang menyayat hati menyapu tanah air. Tiga prajurit terbaik TNI, penjaga perdamaian di bawah panji UNIFIL, gugur dalam tugas mulia di Lebanon Selatan. Kapten Inf Zulmi Aditya (Grup 2 Kopassus), Sertu M. Nur Ikhwan (Kesdam IX/Udayana), dan Praka Farizal Rhomadhon (Yonmek 403/WP) kini beristirahat dalam kemuliaan sebagai syuhada perdamaian.

Namun, di balik air mata doa, tersimpan kemarahan yang beralasan. Insiden di Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026), di mana tim sedang mengawal peti jenazah namun justru menjadi sasaran ledakan, adalah bukti nyata betapa rapuhnya perlindungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan di zona konflik saat ini.
Demokrasi yang Sakit, Geopolitik yang Luka
Partai Gema Bangsa hadir dengan visi “Menyembuhkan Demokrasi”. Hari ini, kesembuhan itu diuji bukan hanya di dalam negeri, tapi pada bagaimana kita melindungi kedaulatan nyawa putra bangsa di kancah global.
Sebagaimana ditegaskan Ketua Umum Ahmad Rofiq, kedaulatan geopolitik hanya bisa dicapai jika politik nasional berdiri di atas integritas. Kita tidak boleh membiarkan istilah diplomatis seperti “unknown origin” (asal-usul tidak diketahui) yang digunakan PBB menjadi tabir untuk mengaburkan fakta agresi. Menyerang pasukan penjaga perdamaian adalah kejahatan perang, dan mendiamkannya adalah bentuk pengkhianatan terhadap kedaulatan rakyat.
Suara dari Akar Rumput: Jangan Lambat Menghadapi Agresi
Budaya “Kawan” di Gema Bangsa mengajarkan kesetaraan. Rasa sakit yang dirasakan keluarga prajurit di pelosok daerah adalah rasa sakit yang sama yang dirasakan oleh pimpinan di pusat. Rakyat di akar rumput kini bertanya: di mana martabat diplomasi kita ketika simbol perdamaian dipulangkan dalam peti mati akibat agresi yang tak kunjung dikutuk dengan tegas?
Gema Bangsa memandang bahwa diplomasi Indonesia tidak boleh kehilangan “kecepatan dan kepercayaan”. Kita melihat desakan publik yang meluas agar pemerintah tidak lagi bersikap ambigu. Kepemimpinan nasional harus mampu berdiplomasi dengan bermartabat, memastikan bahwa setiap tetes darah prajurit TNI di luar negeri dibayar dengan keadilan internasional yang nyata.
Sikap Tegas Gema Bangsa
Sebagai partai yang lahir dari kegelisahan akan politik yang elitis dan tertutup, Gema Bangsa berdiri di garda terdepan untuk:
-
Menuntut Investigasi Tanpa Kompromi: Menolak segala bentuk pengaburan fakta atas insiden Bani Hayyan.
-
Evaluasi Misi Perdamaian: Memastikan keselamatan kawan-kawan prajurit di lapangan adalah prioritas di atas retorika politik internasional.
-
Repatriasi Terhormat: Memastikan pemulangan para syuhada dilakukan dengan upacara kenegaraan yang mencerminkan integritas perjuangan mereka.
Menatap Masa Depan yang Berdaulat
Gugurnya Kapten Zulmi dan rekan-rekan adalah pengingat pahit bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Gema Bangsa meyakini bahwa hanya dengan politik yang bersih, jujur, dan berpihak pada rakyat, Indonesia bisa menjadi bangsa besar yang disegani—bangsa yang mampu melindungi warganya di mana pun mereka berada.
Selamat jalan, Kawan-Kawan prajurit. Tugas kalian selesai dengan sempurna. Tugas kami adalah memastikan pengorbanan kalian tidak sia-sia di atas meja diplomasi yang dingin.
Gema Bangsa: Dari Akar Rakyat, Menjaga Kedaulatan Bangsa.

