Pernah nggak sih kita mikir, kenapa setiap mau Pemilu, partai-partai itu tiba-tiba jadi sangat “merakyat”? Tapi begitu menang, eh… tiba-tiba jaraknya jadi sejauh langit dan bumi. Rakyat yang kemarin dipuji-puji, mendadak cuma dianggap angka.
Jujur aja, demokrasi kita sekarang ini kayak lagi kena macet total. Dalam obrolan seru di Podcast Gema Kebangsaan, Ketum Gema Bangsa, kawan Ahmad Rofiq, buka-bukaan soal ini. Dia bilang, Reformasi kita ini sebenarnya lagi “jalan buntu”. Masalahnya bukan cuma soal uang, tapi soal penyakit lama yang belum sembuh-sembuh: Feodalisme.
Partai Rasa “Kerajaan”
Coba deh kita tengok kiri-kanan. Banyak partai politik kita sekarang ini geraknya sudah kayak perusahaan keluarga atau kerajaan pribadi. Kalau bukan karena “darah biru” alias anak siapa, ya karena “cukongisme” alias punya modal berapa.
Kepemimpinan partai seringkali cuma soal warisan tahta. Kalau ketua umumnya ganti, ya nggak jauh-jauh dari lingkaran keluarga atau orang kepercayaan yang “setorannya” kuat. Akhirnya apa? Pemimpin-pemimpin hebat yang benar-benar lahir dari bawah, yang tahu susahnya rakyat, malah nggak dapat panggung karena nggak punya “privilese” itu.
Kenapa Panggil “Kawan”, Bukan “Bapak”?
Mungkin ada yang nanya, “Kenapa sih di Gema Bangsa kok manggilnya Kawan? Nggak nggak sopan ya sama pimpinan?”
Justru di situlah letak poinnya. Sapaan “Kawan” itu sebuah pernyataan sikap. Kita mau buang jauh-jauh budaya “bapak-isme” yang bikin jarak antara elit dan rakyat. Di Gema Bangsa, kita mau semua orang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Kita nggak mau ada kasta-kasta politik. Jangan sampai kader di daerah cuma dianggap “jongos” pusat yang tugasnya cuma nurutin perintah “Raja Kecil” di Jakarta. Kita ingin semua punya suara yang sama beratnya.
Membangun Indonesia dari “Pinggiran”
Salah satu yang bikin Gema Bangsa beda adalah gagasan Desentralisasi Politik. Selama ini kan apa-apa harus lapor pusat, apa-apa harus restu Jakarta. Padahal, yang paling tahu masalah di pelosok desa ya orang daerah itu sendiri.
Kita ingin bikin “jalan tol” baru buat para pemimpin lokal yang otentik. Kita nggak cari tokoh yang sudah “jadi” lewat polesan iklan atau modal besar. Kita mau menciptakan tokoh—orang-orang biasa yang punya semangat luar biasa buat bangun daerahnya tanpa harus disandera oleh kepentingan elit pusat.
Saatnya “Pindah Kelain Hati”
Tahu nggak, survei bilang kalau loyalitas orang ke partai lama itu rendah banget, nggak sampai 10%. Artinya apa? 90% masyarakat kita sebenarnya sudah capek. Capek dikasih janji manis, capek liat drama elit, dan capek liat parpol yang cuma jadi “kerajaan pribadi” segelintir orang.
Gema Bangsa hadir bukan untuk nambah-nambahin daftar parpol yang ada. Kita hadir sebagai antitesis. Kita mau buktiin kalau politik itu bisa kok dijalani dengan asyik, setara, dan jujur.
Jadi, kalau kamu ngerasa suara kamu selama ini cuma dianggap sampah setelah Pemilu selesai, mungkin ini saatnya kita mulai bareng-bareng. Karena di sini, nggak ada istilah “Saya yang berkuasa”, yang ada cuma “Kita yang berjuang bareng”.


