Jujur saja, politik itu capek ya.
Bukan karena kita nggak ngerti. Justru karena terlalu ngerti. Polanya itu lagi, lagi, dan lagi. Ribut menjelang pemilu, senyap setelahnya. Wajahnya berganti, caranya jarang berubah.

Kadang kita ngerasa, politik tuh kayak acara yang bukan buat kita. Kita cuma penonton—datang, disuruh milih, lalu pulang.
Mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang kelihatan cuek.
Bukan apatis. Cuma lelah.
Dari rasa lelah itulah Gema Bangsa sebenarnya lahir.
Semua Berawal dari Rasa Nggak Sreg
Setahun lalu, 17 Januari 2025, kami duduk dan jujur ke diri sendiri:
kalau politik terus begini, mau sampai kapan kita pura-pura baik-baik saja?
Masalah terbesar politik kita itu bukan kurang aturan, bukan kurang pidato. Tapi terlalu sering lupa: siapa yang sebenarnya hidup dengan dampak keputusan itu.
Hampir semuanya ditarik ke pusat. Daerah diminta menyesuaikan. Kalau punya cara sendiri, dibilang ribet. Padahal yang tiap hari berhadapan dengan kenyataan, ya orang daerah itu sendiri.
Di situ kami sepakat:
nggak semua hal harus dikendalikan dari satu meja.
Gema Bangsa lahir dari gagasan dan pengalaman beberapa tokoh nasional — termasuk kawan Ahmad Rofiq, yang telah membangun partai dari nol berkali-kali dan percaya politik sejati harus kembali ke rakyat; kawan Andogo Wiradi; dan kawan Patrice Rio Capella. Bersama-sama, mereka mendeklarasikan partai ini dengan satu niat sederhana:
Membiarkan daerah berdiri di kakinya sendiri, memberi ruang bagi rakyat untuk memimpin, bukan sekadar memilih
Nggak Ke Mana-mana, Tapi Jalan Terus
Waktu resmi dapat badan hukum Maret 2025, sebenarnya kami bisa langsung ramai-ramai. Bikin acara. Pasang atribut. Bikin judul besar.
Tapi rasanya kok… hampa.
Akhirnya kami pilih jalan yang nggak terlalu kelihatan:
masuk ke kehidupan sehari-hari orang. UMKM kecil. Petani yang mikir pupuk dan cuaca. Nelayan yang mikir solar dan ombak. Anak muda yang idealismenya sering kalah sama tagihan.
Di situ kami sadar satu hal:
Politik sering gagal bukan karena niatnya jelek, tapi karena terlalu jauh dari hidup nyata.
Makanya teknologi di Gema Bangsa nggak kami pakai buat pamer canggih. Aplikasi digital kami pakai buat bantu ekonomi. Supaya kader bisa usaha, bisa mandiri, bisa punya pegangan.
Karena orang yang hidupnya masih goyah, susah disuruh tegak.
Setahun Berlalu, Pertanyaannya Masih Sama
Sekarang Januari 2026.
Gema Bangsa sudah ada di ratusan kabupaten dan kota. Struktur jalan. Kantor daerah hidup. Diskusi nggak berhenti.
Tapi terus terang, kami nggak merasa sedang merayakan apa pun.
Satu tahun itu belum apa-apa.
Itu baru pengingat: apakah kita masih ingat kenapa dulu mulai?
Deklarasi Nasional 17 Januari 2026 nanti bukan pesta. Lebih ke janji ke diri sendiri:
jangan sampai kita berubah jadi seperti yang dulu bikin kita capek.
Pelan Nggak Apa-apa, Asal Niatnya Dijaga
Perjalanan ke depan masih panjang. 2029 bukan garis finish, cuma penanda waktu.
Gema Bangsa nggak lagi sibuk cari sorak-sorai. Kami lebih tertarik cari orang-orang yang masih mau duduk bareng, ngobrol pelan, dan kerja pelan—tapi jalan.
Karena Indonesia ini nggak dibangun dari panggung megah.
Ia dibangun dari kerja sunyi di daerah-daerah yang jarang disebut, tapi selalu menopang.
Kalau politik mau dipercaya lagi, mungkin ia nggak perlu banyak janji.
Cukup satu hal:
nggak lupa alasan kenapa ia ada.


