
Dari Rakorwil Sulawesi Tengah, Gema Bangsa menegaskan arah baru politik Indonesia — bukan dari menara kekuasaan, tapi dari akar yang berdaulat.
Di tengah politik yang makin dikendalikan dari pusat, Gema Bangsa datang membawa arah lain. Ia lahir bukan karena kecewa, tapi karena sadar: politik sejati harus kembali ke akar—ke tangan rakyat, ke ruang-ruang daerah yang selama ini diabaikan.
Melawan Politik dari Menara
Ketua Umum Partai Gema Bangsa, kawan Ahmad Rofiq, berbicara lugas dalam Rakorwil DPW Gema Bangsa Sulawesi Tengah, Sabtu (8/11/2025).
“Gema Bangsa bukan partai pelengkap pemilu. Bukan juga tempat penampungan politik. Ia lahir dari ganasnya politik yang sentralistik,” ujarnya.
Rofiq tahu betul bagaimana sistem di pusat sering mematikan inisiatif kader di daerah. Pengalamannya sebagai sekjen di tiga partai besar memberinya pelajaran keras.
“Setiap kontestasi politik selalu melahirkan kebijakan transaksional. Kawan-kawan di daerah sering dipaksa jadi pengemis di DPP. Praktek seperti itu akan kita kubur di Gema Bangsa,” tegasnya, disambut tepuk tangan panjang peserta Rakorwil.
Rumah bagi yang Ingin Berdiri Tegak
Bagi kawan Rofiq, Gema Bangsa bukan proyek politik, tapi ruang kedaulatan.
“Kita ingin membangun politik yang bermartabat, dari daerah untuk Indonesia,” ujarnya menutup sambutan.
Kalimat itu sederhana, tapi menggetarkan. Karena di baliknya ada tekad untuk memulangkan politik pada pemilik sejatinya: rakyat. Rakorwil hari itu bukan sekadar agenda organisasi. Ia menjelma jadi penanda: bahwa politik baru sedang tumbuh—pelan, tapi pasti—dari bawah ke atas.
Dari Akar Menuju Arah
Rakorwil Sulawesi Tengah menjadi momentum penting bagi Gema Bangsa. Di sana, desentralisasi bukan sekadar gagasan, tapi gerakan nyata. Kader tidak lagi menunggu instruksi dari atas. Mereka justru sedang menyalakan arah dari bawah, dari akar yang tahu ke mana bangsa ini seharusnya melangkah.
Karena bagi Partai Gema Bangsa, politik sejati adalah kemandirian. Dan kedaulatan itu, kini punya nama: Gema Bangsa.

