Di tengah pergeseran tektonik geopolitik global yang kian tak menentu, Indonesia berdiri di persimpangan sejarah. Politik kita hari ini sering kali terjebak dalam panggung sandiwara yang bising namun hampa; riuh oleh mereka yang berebut menjadi daun—tampak hijau berkilau di puncak kekuasaan, namun rapuh dan mudah tanggal saat angin oligarki berganti arah.

Menyongsong 2026, Partai Gema Bangsa memilih jalan yang lebih sunyi sekaligus tangguh. Kita tidak sedang mengejar fatamorgana di pucuk pohon; kita memilih untuk menjadi akar. Akar yang menghujam ke kedalaman tanah air, memastikan pohon republik ini tidak tumbang oleh guncangan transaksional maupun badai kepentingan global yang kian liar.
Sebab, fondasi sejati sebuah bangsa hanyalah kesetiaan:
“Memasuki 2026, semoga kita tetap setia pada cita-cita kebangsaan, teguh menjaga integritas, dan konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat.”
Melawan Arus Oligarki dengan Kemandirian
Lahir dari rahim kegelisahan publik pada 17 Januari 2025, Gema Bangsa bukanlah sekadar entitas politik baru. Ia adalah jawaban atas kelelahan bangsa terhadap praktik sentralistik yang menjauhkan politik dari ruhnya. Di bawah kepemimpinan kawan Ahmad Rofiq, kita membangun politik yang desentralistik—sebuah antitesis terhadap politik mahar yang telah lama membusukkan demokrasi kita.
Kita dituntut untuk semakin “dewasa dalam sikap, cerdas dalam strategi, dan tulus dalam pengabdian.” Kedewasaan bagi kita adalah keberanian untuk mandiri; cerdas dalam menavigasi dinamika tanpa mengkhianati nurani. Kita menolak menjadi pion dari pemilik modal besar, karena kekuatan sejati Gema Bangsa tumbuh dari gotong royong kader di daerah-daerah yang selama ini hanya dijadikan objek kekuasaan.
Di tengah godaan kekuasaan instan, kompas kita tetap satu:
“Di tengah dinamika politik, semoga kita tidak kehilangan nurani, tidak lelah merawat persaudaraan, dan tidak goyah oleh kepentingan sesaat.”
Resonansi dari Akar Rumput untuk Dunia
Dunia sedang memperhatikan apakah demokrasi Indonesia mampu bangkit dari jerat populisme semu. Gema Bangsa hadir dengan jawaban organik. Nama kita bukan sekadar identitas, melainkan simbol suara rakyat yang merambat dari bawah. Jika gema itu tidak sampai ke meja makan rakyat, maka politik telah kehilangan hakikatnya.
Tahun 2026 adalah momentum bagi kita—yang kini telah hadir di lebih dari 90% provinsi—untuk membuktikan bahwa politik mandiri bisa menang. Ini adalah tahun untuk:
“Penguatan barisan, pendalaman gagasan, dan kerja nyata yang dirasakan rakyat.”
Kita tidak mengejar kemenangan yang dibeli dengan kontrak transaksional. Kita mengejar kemenangan yang lahir dari kepercayaan otentik. Kita memilih untuk menyentuh tanah, mendengar detak jantung rakyat, dan memastikan bahwa kekuasaan kembali menjadi alat untuk keadilan, bukan sekadar komoditas elite.
Epilog: Menanam Marwah
Selamat Tahun Baru 2026. Kepada seluruh kader dan pejuang Gema Bangsa di seluruh pelosok nusantara, mari kita terus menghujam ke bawah sebagai akar yang mandiri. Agar esok, Indonesia bisa tumbuh menjadi pohon yang benar-benar teduh dan berdaulat di hadapan dunia.
Teruslah menjadi gema bagi mereka yang tak terdengar.



gema bangsa akan bangkit hidup dari hulu sampai ke hilir dalam rantai rakyat dusun / desa , sampai ke kota. rakyat lah kekuatan kami dan Rebond desentralisasi yes …, bagaikan pohon yang berakar kuat dan berdaun lebat dan hijau di Padang,dari langit biru memberikan cita dan cinta kami yg tinggi kepada rakyat.