Di siang yang teduh di Cipinang Cempedak, langkah para petinggi Partai Gema Bangsa memasuki Kantor DPP Hidayatullah membawa suasana yang berbeda. Bukan sekadar kunjungan resmi, silaturahmi ini terasa seperti perjumpaan dua arus besar—dakwah dan politik—yang sama-sama memikul cita-cita Indonesia.

DPP Partai Gema Bangsa bersilaturahmi dengan KH. Naspi Arsyad, LC, Ketua Umum Ormas Islam Hidayatullah, organisasi yang sejak 5 Februari 1973 menyalakan cahaya dakwah hingga ke pelosok-pelosok terpencil negeri ini. Di banyak tempat yang tak pernah tersentuh sorotan, dai-dai Hidayatullah hadir sebagai jembatan harapan.
Pertemuan berlangsung hangat pada Rabu (19/11/2025), dihadiri jajaran lengkap Gema Bangsa: Ketua Umum Ahmad Rofiq, Sekjen Muhammad Sopiyan, Bendahara Umum Ratih Purnamasari, tiga Wakil Ketua Umum—Abd. Khaliq Ahmad, Joko Kanigoro, dan Nurmala—serta para ketua bidang: dr. Yandra Doni (Politik), Moh Shofan (Keagamaan), Ike Julies Tiati (Digital, Komunikasi & Media), dan Denny Adin (Sosial & Kebencanaan). Hadir pula Hasan Asy’ari dan Ayun Sri Damayanti dari jajaran Wasekjen, serta Ade Wardhana, Ketua DPW Gema Bangsa Jawa Barat.
Politik yang Memilih Jalan Silaturahmi
Gema Bangsa datang bukan membawa agenda kaku, tetapi ruang dialog. Sebagai partai modern, mereka memilih merangkul tokoh bangsa lewat pendekatan manusiawi. Gagasan Desentralisasi Politik mengalir dan mencari resonansi dengan nilai dakwah yang selama ini menjadi fondasi pergerakan Hidayatullah.
“Dengan silaturahmi seperti ini komunikasi mulai terbangun sehingga mampu meyakinkan tokoh atau ulama terhadap gagasan partai, yang pada akhirnya berujung pada penerimaan masyarakat,” ujar kawan Ahmad Rofiq.
Bagi Gema Bangsa, silaturahmi bukan hanya tradisi—tetapi cara kerja moral. Politik bukan menara, melainkan rumah yang pintunya harus diketuk dan dibuka.
Menghimpun Aspirasi, Mengangkat Martabat Bangsa
Sekjen Gema Bangsa, kawan Muhammad Sopiyan, menegaskan arah besar partai: menyerap aspirasi para tokoh agar kolaborasi untuk kemandirian bangsa dapat dirumuskan lebih kuat.
“Kami ingin menghadirkan kolaborasi dengan semua pihak untuk kemandirian bangsa, sehingga masa depan masyarakat Indonesia dapat segera naik kelas dari sisi ekonomi,” ujarnya.
Waketum kawan Abd. Khaliq Ahmad menambahkan bahwa Gema Bangsa lahir dan tumbuh dengan semangat inklusivitas.
“Ormas ini telah berhasil menjadi juru dakwah hampir di seluruh pelosok negeri. Mereka mengirimkan dai-dai ke tempat-tempat terisolir,” katanya sembari memberi apresiasi atas kiprah Hidayatullah.
Dari Ruang Sederhana, Lahir Agenda Besar
KH. Naspi Arsyad, LC menyambut langsung rombongan Gema Bangsa. Dialog mengalir tanpa jarak. Ada nilai, ada refleksi, dan ada kesadaran bersama bahwa kerja besar bangsa sering lahir dari ruang-ruang kecil seperti ini—dari percakapan yang jujur dan dari kesediaan untuk saling mendengar.
Setiap perkenalan, setiap gagasan, dan setiap senyum yang ditukar menjadi penanda bahwa politik dan dakwah sejatinya berada di jalur yang sama: membangun manusia, memuliakan bangsa.
Dan di titik itulah judul ini menemukan maknanya.

